Jl.Parang Barong Windan RT.01 RW.08 Makamhaji Kartasura Sukoharjo Jawa Tengah.
Menu

Wisata Museum Batik Danar Hadi

Wisata Museum Batik Danar Hadi – Keinginan H. Santosa Doellah (pengusaha pribumi) untuk melestarikan batik mendorong didirikannya museum batik di Kota Solo. Museum ini bernama Museum Batik Danar Hadi. Berlokasi di jalan utama Kota Solo, jalan Slamet Riyadi. Museum yang didirikan sejak tahun 1967 ini menyuguhkan koleksi batik kualitas terbaik dari berbagai daerah seperti batik asli keraton, batik China, batik Jawa Hokokai (batik yang terpengaruh oleh kebudayaan Jepang), batik pesisir (Kudus, Lasem dan Pekalongan), batik Sumatera dan berbagai jenis batik lainnya. Museum ini memiliki koleksi kain batik mencapai 1000 helai dan sudah diakui MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai museum dengan koleksi batik terbanyak. Pengunjung dapat melihat proses pembuatan batik bahkan bisa mengikuti workshop pembuatan batik secara langsung.

Selain mendapat pengalaman membatik, pengunjung juga bisa menikmati arsitektur bangunan khas Jawa di samping museum, yang dikenal dengan nama Ndalem Wuryaningratan. Ndalem Wuryaningratan semula merupakan tempat tinggal Pangeran Wuryaningrat, menantu Susuhan Pakubuwono X. Dibangun dengan konsep rumah tinggal bangsawan pada masa itu, dengan pakem Jawa dan pengaruh arsitektur gaya Eropa. Pada tahun 1997, H. Santosa Doellah sebagai pemilik Batik Danar Hadi membeli bangunan ini menjadi House of Danar Hadi dengan mempertahankan arsitektur aslinya.

Informasi mengenai jadwal dan harga tiket museum :

Setiap hari : 09.00 – 16.30

Harga tiket umum: Rp 35.000,00

Harga tiket pelajar RP 8.000,00

Tempat Wisata Kampung Batik Laweyan

Tempat Wisata Kampung Batik Laweyan – Laweyan menjadi salah satu pusat batik yang tertua dan terkenal di Kota Solo setelah Kampung Batik Kauman. Kampung ini memiliki luas area 24.83 hektar dan berpenduduk kira-kira 2500 penduduk di mana sebagian besar penduduknya bekerja sebagai pedagang ataupun pembuat batik.

Kampung batik Laweyan sudah menjadi ikon batik Solo sejak abad ke-19 ketika asosiasi pedagang pertama kalinya dibentuk yaitu Sarikat Dagang Islam yang didirikan oleh Haji Samanhudi pada tahun 1912. Hingga sekarang 250 motif batik khas Kampung Batik Laweyan sudah dipatenkan. Berbeda dengan Batik Kauman yang cenderung berwarna gelap dan motif klasik, Batik Laweyan lebih menawarkan batik warna lebih terang.

Selain memiliki sejarah sebagai kota batik tertua, gaya arsitektur kampung batik juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Dinding tinggi dan gang-gang sempit menjadi karakter khas kampung batik ini. Bangunan rumah pedagang batik Laweyan banyak dipengaruhi oleh arsitektur Jawa, Eropa, Cina dan Islam. Bangunan mewah ini menjadi ciri kejayaan saudagar batik asli pribumi Laweyan pada masa itu dan dikenal dengan sebutan “Gal Gendhu”.

Tak hanya berjualan batik, Kampung Batik Laweyan juga menawarkan paket wisata workshop membuat batik. Bagi Anda yang tertarik, Anda mengikut kursus membatik dalam waktu singkat sekitar 2 jam dan Anda bisa membawa pulang hasil karya Anda. Selain itu juga ada pelatihan membatik secara intensif bagi Anda yang ingin mendalami teknik pembuatan batik tulis dan cap. Untuk mengetahui biaya kursus Anda bisa menghubungi langsung ke contact person Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan.

Berwisata ke Kampung Batik Laweyan rasanya juga kurang lengkap jika Anda belum menikmati kuliner khas Kampung Laweyan seperti kue ledre, apem dan makanan khas Solo lainnya. Atau Anda bisa menikmati obrolan santai di wedangan di area Kampung Batik Laweyan, tepatnya di Wedangan Rumah Nenek, dengan konsep bangunan joglo berarsitektur Jawa-Belanda. Buka setiap hari pada jam 10 pagi hingga jam 12 malam.

Kampung Batik Kauman Solo

Kampung Batik Kauman Solo – Kampung Batik Kauman juga menjadi pusat batik tertua di Kota Solo. Berlokasi tidak jauh dari jalan utama Slamet Riyadi dan Jalan Rajiman. Akses menuju Kampung Batik Kauman dapat ditempuh dengan bus Batik Solo Trans (BST) dari Stasiun Balapan. Menurut sejarah Kampung Batik Kauman dulunya adalah pemukiman kaum abdi dalem Keraton Kasunanan dengan mempertahankan tradisi dengan cara membatik. Dibandingkan dengan Laweyan, batik Kauman lebih menampilkan motif batik klasik yang didasarkan pada pakem atau standar keraton. Bisa dikatakan motif batik Kauman lebih merepresntasikan motif batik yang dikenakan di Keraton Kasunanan.

Dalam perkembangannya, sampai sekarang Batik Kauman memiliki 3 jenis batik yaitu batik klasik dengan motif pakem (batik tulis) yang menjadi produk unggulan Kampung Batik Kauman, batik cap dan batik kombinasi cap dan tulis.

Terdapat lebih dari 30 industri batik di Kampung Batik Kauman sehingga Anda memiliki banyak pilihan untuk membeli batik Solo di tempat ini. Keunikan yang ditawarkan di Kampung Batik Kauman adalah pengunjung dan penjual batik bisa berinteraksi dan bertransaksi langsung dengan mengunjungi rumah industri batik mereka dan melihat proses produksi batik serta belajar membatik.

Jika Anda tertarik berkeliling ke Kampung Batik Kauman sebaiknya Anda berjalan kaki atau naik becak karena akses jalan di kampung ini berupa gang-gang sempit. Dengan berjalan kaki Anda bisa menikmati bangunan tua dengan gaya arsitektur Jawa-Belanda, rumah joglo dan limasan.

Bus Wisata Werkudoro Solo

Bus Wisata Werkudoro Solo – Werkudara berwarna merah mecolok dan mempunyai tinggi 4,5 meter atau kalau duduk di atas, maka akan lebih tinggi dari lampu lalu lintas. Lebarnya sama dengan bus pada umumnya yakni 2,5 meter. Oleh karena itu, Werkudara hanya dapat membawa kita berkeliling jalan jalan utama di Solo saja. Selama kurang lebih dua jam perjalanan, akan ada pemandu yang akan memberi tahu spot spot penting di kota Solo.

Werkudara hanya beroperasi di hari Sabtu dan Minggu. Jam yang saya naiki adalah jam 12 siang (aneh yah jalan di tengah siang bolong). Sebenarnya ada jam 9 pagi dan 4 sorenya. Tetapi kata stafnya yang jam 9 pagi tidak beroperasi karena tidak ada penumpang. Minimal ada 20 orang baru deh Werkudara dioperasikan. Sedangkan sorenya penuh.

Harga tiket per orangnya Rp.20.000. Ohya Werkudara juga dapat dicarter loh! cukup merogoh kocek sebesar Rp.800.000 dan bus dengan 54 seat ini pun dapat anda bawa kemana mana.

Nah sebelum bus ini berjalan, Perlu diingat jika memilih duduk di bagian atas, hati hati akan ranting pohon yang tiba tiba suka menyambar. Siapkan juga body lotion agar kulit terlindungi dari sinar matahari. Biar tambah keren pakai kacamata hitam dong.  Sudah siap? Yuk kita mulai perjalanan menyusuri kota Solo!

Kantor Dinas Perhubungan Manahan – Jl Adi Sucipto – Perempatan Manahan (tugu wisnu) – Jl Ahmad Yani – Kerten – Jl Slamet Riyadi – Gendengan – Ngapeman – Pasar Pon – Gladag – Jl Jenderal Sudirman – Jl Urip Sumoharjo – Jl Kol. Sutarto – Jl Ir Sutami – Jurug (Kebun Bintang Taman Jurug)

Werkudara akan berhenti di depan Kebun Binatang Taman Jurug dan para penumpang diminta gantian tempat duduk (yang diatas duduk di bawah dan sebaliknya) agar semua dapat merasakan pengalaman yang sama. Tetapi karena jumlah tempat duduk di bawah terbatas, ada yang kembali duduk di atas juga. Hm enakan kayak saya. Numpang duduk di samping pak kusir.. eh pak supir.

Sebagian para penumpang kebanyakan turun dan keluar dari bus untuk sekedar meluruskan badan, membeli minuman, mencari WC atau foto foto. Waktu yang diberikan hanya 15 menit. Jika tak on time, maka akan ditinggal bus. Jadi sekedar tips, kalau mau ke WC dan agak lama, lapor kepada supir/kernet agar mereka dapat menunggu.

Lalu berikutnya bus pun siap memulangkan kita kembali dengan rute sbb:

Rute Balik Werkudara :
Jurug (Kebun Bintang Taman Jurug) – Jl Ir Sutami – Jl Kol. Sutarto – Jl Urip Sumoharjo – Jl Jend. Sudirman – Gladag – PGS – Sangkrah – Jl Kapten Mulyadi – Baturono –  Jl Veteran – Tipes – Jl Bayangkara – Baron – Jl Dr Rajiman – Jl Perintis Kemerdekaan – Purwosari – Jl Slamet Riyadi – Kerten – Jl Ahmad Yani – Kantor Dinas Perhubungan Manahan.

Selama perjalanan, tak jarang kami (baca: Werkudara) jadi pusat perhatian masyarakat lokal. Bahkan ada yang melambaikan tangan kepada kami. Wah nampaknya masyarakat solo sendiri juga jarang jarang neh nyobaiin werkudara.

Buat yang mau nyobaiin, jangan lupa tanyakan dulu jam keberangkatan dan booking terlebih dahulu jika takut kehabisan tempat. Semua info tentang Werkudara dapat diperoleh disini:
Kantor Dinas Perhubungan Kota Surakarta
Jl. Menteri Supeno no 7 Manahan Surakarta

Bernosalgia di Masa Lampau Karaton Surakarta Hadiningrat dan pura Mangkunegaran

Berkunjung ke kota Solo akan kurang lengkap jika tidak mengunjungi dua tempat wisata paling iconic yaitu keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran.  Berada di lokasi yang berbeda, namun kedua tempat ini mempunyai keterkaitan sejarah dan keindahan peninggalan yang sayang untuk dilewatkan. Terletak di kecamatan Pasar Kliwon, Keraton Kasunanan berada dekat dengan kawasan jantung kota Solo yang strategis dan mudah dijangkau oleh para wisatawan.

Memasuki kawasan Keraton Kasunanan, wisatawan akan disambut oleh bangunan dengan atap yang berukir menyerupai dua ekor naga, dan di depan bangunan tersebut terdapat dua arca berwarna hitam yang seolah- olah sedang berjaga. Biasanya juga terdapat abdi dalem keraton yang mengenakan seragam prajurit lengkap dengan pedangnya.  Untuk masuk ke museum Keraton Kasunanan, wisatawan lokal  membayar tiket sebesar Rp 10.000, sedangkan untuk wisatawan mancanegara dikenakan tiket sebesar Rp 15.000.

Di dalam museum Keraton Kasunanan, wisatawan dapat menyewa jasa guide yang akan menjelaskan tentang seluk beluk sejarah keraton beserta peninggalannya. Banyak benda- benda kuno peninggalan asli keraton Kasunanan seperti kereta kencana lengkap dengan kuda yang diawetkan, tandu , peralatan dapur istana, pakaian raja- raja, foto- foto kuno, tombak, keris dan kitab suci yang ditulis dalam dua bahasa yaitu bahasa Jawa kuno dan bahasa Arab. Tak hanya itu, di museum ini juga terdapat seperangkat wayang dan gamelan yang berusia ratusan tahun. Setelah lelah berkeliling, wisatawan juga dapat meminum air dari sumur yang berada di dalam museum keraton tersebut. Tak hanya berkeliling museum, wisatawan juga dapat memanfaatkan bangunan- bangunan kuno di komplek keraton sebagai spot- spot foto yang menarik untuk diunggah ke media sosial.

Puas berwisata dengan Keraton Kasunanan, wisatawan dapat mengunjungi Pura Mangkunegaran yang berada di kecamatan Banjarsari dekat dengan pasar barang antic Triwindu. Dengan membayar Rp 10.000, wisatawan dapat menjelajahi Pura Mangkunegaran. Jika wisatawan memerlukan guide, terdapat local guide yang bisa disewa dengan memberikan tip. Di depan Pura, terdapat kolam yang ditengah- tengahnya terdapat pancuran berbentuk angsa yang dipegang oleh malaikat. Tak kalah indah dengan Keraton Kasunanan, Pura Mangkunegaran terdapat perpaduan budaya Eropa dengan Jawa pada bangunannya. Jika dilihat, pada pendopo banyak sekali lampu kristal gantung yang berasal dari Belanda. Patung- patung malaikat dan singa juga terdapat di bagian pendopo ini.

Setelah dari pendopo luar, wisatawan akan dibawa memasuki pendopo dalem. Pada ruangan pendopo dalem, wisatawan dilarang memotret. Di dalamnya terdapat koleksi seperti perhiasan dan barang- barang kuno seperti keris. Juga terdapat satu ruangan yang berisi tempat tidur kosong sebagai simbol peristirahatan Dewi Sri. Diruangan lainnya, terdapat koleksi perabot rumah tangga khas Mangkunegaran. Tak hanya itu, disini juga terdapat gamelan peninggalan yang masih dimainkan hingga sekarang.

Pura Mangkunegaran juga masih aktif digunakan sebagai tempat pementasan tarian- tarian tradisional. Wisatawan juga dapat melihat para penari berlatih setiap harinya disisi timur pendopo pukul 3 hingga 5 sore. Tak hanya berlatih menari, wisatawan juga dapat melihat para pemain gamelan berlatih karawitan setiap Rabu dan Minggu pukul 7 hingga 10 malam

Berkunjung ke kota Solo akan kurang lengkap jika tidak mengunjungi dua tempat wisata paling iconic yaitu keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran.  Berada di lokasi yang berbeda, namun kedua tempat ini mempunyai keterkaitan sejarah dan keindahan peninggalan yang sayang untuk dilewatkan. Terletak di kecamatan Pasar Kliwon, Keraton Kasunanan berada dekat dengan kawasan jantung kota Solo yang strategis dan mudah dijangkau oleh para wisatawan.

Memasuki kawasan Keraton Kasunanan, wisatawan akan disambut oleh bangunan dengan atap yang berukir menyerupai dua ekor naga, dan di depan bangunan tersebut terdapat dua arca berwarna hitam yang seolah- olah sedang berjaga. Biasanya juga terdapat abdi dalem keraton yang mengenakan seragam prajurit lengkap dengan pedangnya.  Untuk masuk ke museum Keraton Kasunanan, wisatawan lokal  membayar tiket sebesar Rp 10.000, sedangkan untuk wisatawan mancanegara dikenakan tiket sebesar Rp 15.000.

Di dalam museum Keraton Kasunanan, wisatawan dapat menyewa jasa guide yang akan menjelaskan tentang seluk beluk sejarah keraton beserta peninggalannya. Banyak benda- benda kuno peninggalan asli keraton Kasunanan seperti kereta kencana lengkap dengan kuda yang diawetkan, tandu , peralatan dapur istana, pakaian raja- raja, foto- foto kuno, tombak, keris dan kitab suci yang ditulis dalam dua bahasa yaitu bahasa Jawa kuno dan bahasa Arab. Tak hanya itu, di museum ini juga terdapat seperangkat wayang dan gamelan yang berusia ratusan tahun. Setelah lelah berkeliling, wisatawan juga dapat meminum air dari sumur yang berada di dalam museum keraton tersebut. Tak hanya berkeliling museum, wisatawan juga dapat memanfaatkan bangunan- bangunan kuno di komplek keraton sebagai spot- spot foto yang menarik untuk diunggah ke media sosial.

Puas berwisata dengan Keraton Kasunanan, wisatawan dapat mengunjungi Pura Mangkunegaran yang berada di kecamatan Banjarsari dekat dengan pasar barang antic Triwindu. Dengan membayar Rp 10.000, wisatawan dapat menjelajahi Pura Mangkunegaran. Jika wisatawan memerlukan guide, terdapat local guide yang bisa disewa dengan memberikan tip. Di depan Pura, terdapat kolam yang ditengah- tengahnya terdapat pancuran berbentuk angsa yang dipegang oleh malaikat. Tak kalah indah dengan Keraton Kasunanan, Pura Mangkunegaran terdapat perpaduan budaya Eropa dengan Jawa pada bangunannya. Jika dilihat, pada pendopo banyak sekali lampu kristal gantung yang berasal dari Belanda. Patung- patung malaikat dan singa juga terdapat di bagian pendopo ini

Setelah dari pendopo luar, wisatawan akan dibawa memasuki pendopo dalem. Pada ruangan pendopo dalem, wisatawan dilarang memotret. Di dalamnya terdapat koleksi seperti perhiasan dan barang- barang kuno seperti keris. Juga terdapat satu ruangan yang berisi tempat tidur kosong sebagai simbol peristirahatan Dewi Sri. Diruangan lainnya, terdapat koleksi perabot rumah tangga khas Mangkunegaran. Tak hanya itu, disini juga terdapat gamelan peninggalan yang masih dimainkan hingga sekarang.

Pura Mangkunegaran juga masih aktif digunakan sebagai tempat pementasan tarian- tarian tradisional. Wisatawan juga dapat melihat para penari berlatih setiap harinya disisi timur pendopo pukul 3 hingga 5 sore. Tak hanya berlatih menari, wisatawan juga dapat melihat para pemain gamelan berlatih karawitan setiap Rabu dan Minggu pukul 7 hingga 10 malam.

Wisata Keraton Kasunanan Surakarta

Wisata Keraton Kasunanan Surakarta  – Sebuah kerajaan Jawa yang memerintah beberapa abad yang lalu telah menjadi ikon Kota Solo. Kerajaan ini bernama Keraton Kasunanan, didirikan oleh Susuhan Pakubuwono II (Sunan PB II) pada tahun 1744 sebagai pengganti Keraton Kartasura yang rusak akibat Geger Pecinan pada tahun 1743. Memiliki luas area sekitar 54 are dan banyak koleksi patung, senjata dan pusaka kerajaan. Salah satu bangunan bertingkat yang menarik di Keraton Kasunanan yaitu Menara Sanggabuwana, konon menjadi tempat bertemunya Ratu Laut Selatan dengan Raja. Menara ini didirikan oleh Sri Susuhan Pakubuwono III pada tahun 1782. Menara setinggi 30 meter ini berfungsi sebagai menara dan tempat memata-matai Belanda pada masa penjajahan.

salah satu wisata unik kraton solo

salah satu wisata unik kraton solo

Ketika Anda berkunjung ke Keraton Kasunanan ada beberapa tempat yang tidak boleh dimasuki yaitu kediaman Raja Pakubuwono. Area di Keraton Kasunanan yang boleh dikunjungi publik salah satunya adalah pendopo besar di dalam Sasana Sewaka, dimana pertunjukan tari dan gamelan disuguhkan di tempat itu. Ketika masuk Sasana Sewaka pengunjung harus melepaskan alas kaki dan berjalan dengan kaki telanjang di hamparan pasir yang diambil langsung dari Pantai Parangkusumo dan Gunung Merapi. Anda juga bisa mengunjungi museum yang ada di dalam kawasan Keraton Kasunanan. Terdapat berbagai koleksi kerajaan seperti kereta kencana, tandu, patung, senjata kuno dan beberapa koleksi lainnya.

Selain keindahan bangunan keraton, Keraton Kasunanan Surakarta juga menawarkan wisata warisan budaya seperti upacara adat, tarian sakral dan musik diantaranya adalah yang terkenal adalah sekaten dan malam Suro. Sekaten adalah upacara perayaan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad selama 7 hari dan pada hari terakhir ditutup dengan Gunungan Mulud. Satu bulan sebelumnya juga diselenggarakan pasar malam Sekaten di area alun-alun utara keraton. Berbeda dengan Sekaten, Malam Suro adalah memperingati tahun baru menurut kalender Jawa. Perayaan ini ditandai dengan Kirab Mubeng Beteng dengan membawa pusaka keraton termasuk kerbau pusaka Kyai Slamet.

Informasi mengenai jadwal dan harga tiket museum :

Senin – Kamis: 09.00 – 14.00

Sabtu – Minggu: 09.00 – 15.00

Jumat: tutup

Harga tiket domestik: Rp 10.000,00

Domestik rombongan: RP 8.000,00

Wisatawan asing: Rp 15.000,00